Wabah Ekoli telah menciptakan kekhawatiran dan kepanikan di seluruh dunia. Berbagai negara telah berusaha melakukan berbagai upaya pencegahan agar wilayahnya aman dari bakteri yang mematikan itu.
Kementerian Kesehatan Federal Australia telah meminta para dokter umum untuk siaga menghadapi infesi wabah Ekoli yang telah terjadi di Eropa. Juru bicara kementerian kesehatan menyatakan memang belum ada laporan kasus Ekoli di Australia. Tapi, pihaknya terus melakukan monitoring dengan intensif.
Otoritas kesehatan tidak ingin wabah itu merebak di Australia. Seperti dilaporkan ABC News, pemerintah Australia menghimbau agar siapapun yang habis bepergian dari Jerman dan merasa kondisi kurang sehat agar disarankan mendatangi dokter umum secepatnya. Selain itu, Badan Standar Makanan Selandia Baru – Australia telah menyatakan kalau Negeri Kanguru itu telah menghentikan impor mentimun dan selada dari Eropa.
Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) dapat menyebabkan haemolytic uraemic syndrome (HUS), penyakit yang menyerang liver dan darah. Pasien yang menderita penyakit pun terancam jiwanya. Bakteri Ekoli biasanya ditemukan pada usus manusia dan binatang berdarah panas. Gejala awalnya adalah diare.
Wabah Ekoli itu telah menewaskan 19 orang dan lebih dari 1.700 orang telah terinfeksi. Wabah Ekoli telah menyebar ke Austria, Republik Ceko, Denmark, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swiss dan Inggris. Kabar terakhir, di Amerika Serikat (AS) juga terdapar korban wabah Ekoli.
Korban berasal dari negara-negara Eropa dan AS karena pernah berpegian ke Jerman dan memakan tomat, mentimun atau sayur lainnya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan 103 orang dari 12 negara yang berbeda-beda telah sakit Ekoli karena pernah bepergian dari dan ke Jerman. Sejumlah ahli kesehatan dunia khawatir, wabah itu akan menyebar ke seluruh dunia. Saat ini, tim ahli sedang menyelidiki bagaimana bakteri itu bisa tersebar.
AS menyatakan dua personel militer di Jerman diduga jatuh sakit akibat Ekoli. Kemudian, dua perempuan dan seorang pria yang bepergian pada bulan lalu ke Jerman utara dirawat di rumah sakit di AS dengan menderita HUS. Chris Braden dari Pusat Kontrol Penyakit dan Pencegahan AS menyatakan pasien keempat pada Jumat lalu (3/5) telah dirawat di rumah sakit. “Kita tidak berekspektasi kalau wabah ini bakal menyebar ke negara kita,” katanya kepada CNN.
Negara pertama yang paling respon melarang sayuran segar dari Eropa adalah Rusia. Rusia pada Senin (30/5) melarang impor sayur dari Spanyol dan Jerman. Saat itu, Moskow mengancam akan memberikan sanksi pelarangan impor sayur bagi seluruh negara Eropa jika tidak ada penjelasan yang layak bagaimana wabah itu bisa menyebar.
Qatar pun ikut melarang impor sayuran segar dari Spanyol dan Jerman. Semua buah dan sayuran harus memiliki sertifikast kesehatan bebas bakteri. “Kita tidak memberlakukan larangan impor sayuran dari Eropa secara keseluruhan, tetapi kita peduli dengan kesehatan rakyat Qatar,” demikian keterangan Dewan Kesehatan Qatar.
Petani sayuran sangat dirugikan akibat kebijakan itu. Salah satu produsen mentimun di Lower Saxony, Jerman, menyatakan setiap harus harus menghancurkan dua juta mentimun karena tidak laku di pasaran. “Kita bukan hanya menderita kerugian, tetapi juga harus menanggung biaya tambahan untuk pembuangan sampah,” kata Karl Voges. “Situasi ini begitu dramatis bagi kita.”
Warga di sebagian besar negara Eropa pun mulai menghindari salad. “Saya seorang vegetarian. Seruan untuk menghindari konsumsi sayuran sangat sulit bagi saya,” ujar Wolfgang Roenisch, seorang pengemudi taksi di Jerman. “Saya harus menghindari mentimun, tomat dan salad.”
Namun demikian, para pejabat kesehatan Eropa menyatakan telah ada tanda-tanda wabah Ekoli stabil. Mereka mengatakan sekitar 200 kasus baru di Jerman telah menurun jumlahnya. “Itu mungkin berkurang, tetapi belum selesai,” kata salah satu dokterdi Jerman. Klinik-klinik di Jerman telah menyerukan kepada warga agar melakukan donor darah.
Reinhard Brunkhorst, presiden Masyarakat Nephrology Jerman, mengatakan ada beberapa tanda bahwa wabah bergerak melambat. Dia menuturkan, rumah sakit di Jerman utara melaporkan semakin sedikit pasien yang terinfeksi. “Tidak ada alasan untuk berhisteria karena itu tidak bakal menyebar dan tidak bakal meningkat. Itu justru semakin menurun,” katanya.
Hal berbeda diungkapkan Menteri Kesehatan Daniel Bahr. Bahr kemarin mengatakan, rumah sakit di Jerman berusaha keras mencari solusi untuk menampung korban wabah Ekoli yang semakin menumpuk. “Kita menghadapi situasi yang serius dalam perawatan pasien,” ujar Bahr kepada harian Bild am Sonntag. Dia menambahkan, rumah sakit di luar Hamburg tidak mampu menampung pasien.
Sebuah restoran di Luebeck, 65km dari pusat wabah di Hamburg, telah diperiksa oleh para ilmuwan. 17 orang yang pernah menikmati makam malam di restoran itu menderita sakit karena Ekoli. Para ilmuwan juga mengujicoba suplai makanan ke restoran itu dan mencoba mencari tahu darimana bakteri itu menyebar.
Sebelumnya dilaporkan WHO bahwa bakter Ekoli yang menjadi wabah itu merupakan bentuk baru. “Salah satu bakteri akan mengambil zat toksik dari bakteri lain dan menghasilkan racun yang lebih berbahaya karena menyebabkan diare berat, bahkan merusak jaringan, termasuk ginjal,” kata Dr Paul Wigley, ahli biologi dari Universitas Liverpool. Kasus wabah E coli ini telah menyebabkan gagal ginjal.
Sementara itu, para pejabat Jerman pada Selasa (31/5) menyatakan pada uji laboratorium terakhir menunjukan mentimun tidak mengandung bakteri yang membahaya terkait dengan wabah itu. “Jerman menganggap kalau mentimun Spanyol bukan penyebab wabah itu,” ujar Robert Kloos, menteri pertanian negara bagian di Jerman, dikutip Al Jazeera.
Selain menyelidiki sayuran, para ilmuwan juga mulai meneliti kemungkinan bakteri Ekoli muncul dari biogas. Ilmuwan mengatakan kepada harian Welt am Sonntag menyatakan selama proses fermentasi bisa menghasilkan bakteri baru. “Mereka pun saling bersilang dan berfusi satu sama lain,” ujar Bern Schottdorf. Namun, kata dia, masalah itu belum diuji lebih lanjut.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) yang berkantor pusat di Swedia mengatakan penyebaran infeksi bakteri tersebut salah satu insiden hemolytic-uremic syndrome terbesar di dunia dan yang paling besar dari yang pernah dilaporkan di Jerman. ECDC mengatakan, meski kasus HUS biasanya teramati pada anak usia balita, dalam penyebaran ini 87% (pasien) orang dewasa, dan sebagian besar wanita.(sumber :http://andikahendramustaqim.blogspot.com, Juni 2011)